Menu Tutup

Ungkapan-ungkapan Toraja #1

Ungkapan atau idiom adalah gabungan kata untuk menyatakan sesuatu maksud tertentu dalam arti kias. Ungkapan dibentuk oleh kata-kata yang polanya terbentuk atau tersusun secara tetap. Kata-kata itu tidak dapat diubah susunannya dan tidak dapat pula disisipi dengan kata lain. Makna dari tiap-tiap kata itu melebur membentuk makna baru. Idiom Berfungsi menyatakan maksud dengan arti tak sebenarnya.

Ungkapan umumnya merupakan warisan nenek moyang, dalam hal ini masyarakat Melayu tradisional pada masa lampau. Suku Toraja sebagai salah satu pewaris Melayu tua (proto Melayu) juga sangat kaya dengan ungkapan-ungkapan atau idiom ini. Berikut beberapa yang lazim diungkapkan atau didengar dalam masyarakat.

Ampu lembang, yang empunya negeri, pemilik negeri || orang yang berkuasa dan menentukan pada suatu wilayah kampung (atau istilah di Toraja dinamakan lembang)

A’riri posi’, tiang tengah ||  tiang rumah tongkonan yang terdapat ditengah-tengah bangunan yang melambangkan bahwa rumah tongkonan tersebut berstatus kaparengngesan (kepemangkuan adat)

Bala kollong, merimbah leher || perbuatan yang dilakukan agar luput dari kutukan, kesalahan atau celaan orang lain

Bale rangkean, ditempati ikan kering || luka yang hampir sembuh, seseorang yang penyakitnya semakin parah

Banua tang merambu,  rumah yang tidak berasap || kuburan, patane

Barira sangpiak, halaman sebelah, setengah || tidak adil, berat sebelah, hanya mementingkan keluarganya (istilah dalam  perkawinan yang ditujukan bagi istri atau suami yang hanya mementingkan keluarga asalnya saja)

Basse situka’, bertukar janji || komitmen untuk bertukar orangtua bagi orang yang telah menikah

Batangtapa tumati’, mereka masih batang || hubungan kekeluargaan masih dekat

Batang rabuk, batang yang sudah lapuk || mayat, istilah yang digunakan bagi yang telah meninggal

Bendan paloloan, berdiri tegak seperti penjalaran/tiang rambatan || tak tergoyahkan, teguh pendirian

Bosi pa’dunna, busuk empedunya || sangat bodoh

Boko’ solong, hanya upih saja (solong = upih daun pinang)|| pemalas yang hanya menunggu makan saja

Buda pake-pakena, banyak pakaiannya ||  mempunyai banyak guna-guna atau jimat

Bura padang, buih tanah || hasil pertanian

Buta penaa, buta hatinya || org yang tidak dapat berpikir

Dialli manoka’na , dibeli ketidakmauannya || istilah dalam jual beli, dimana penjual bertahan dengan harga tinggi karena pembeli sangat membutuhkan

Dianna batu silambi’, disimpan batu berkesinambungan || dipegang teguh turun temurun

Diola boko’, dilalui belakangnya || dikalahkan tanpa sepengetahuan yg bersangkutan

Dipasirampanan kapa’, sama-sama saling melepaskan kapas || dikawinkan, dinikahkan

Dipalimbuan tangnga’, dikumpulkan pemikiran || orang bersepakat untuk memfitnah atau menipu atau mencelakakannya.

Dipokada bo’bo’, disebut nasi || diungkapkan dengn kata-kata biasa tanpa kiasan

Dipoya anginna, dijeratkan anginnya || diupacarakan karena meninggal di tempat lain dan mayatnya tidak dapat diambil oleh keluarga

Dipopererung lindo, dijadikan penutup wajah || benda yang diberikan kepada ahli waris orang yang pernah dibunuh, sebagai tanda perdamaian

Dipopelapik kada , dijadikan alas kata || kata-kata yang merupakan pembelaan terhadap pembicaraan sebelumnya.

Dipolindo kalua’, dijadikan muka lapang /luas || sesuatu yang dibawa pada suatu upacara/pertemuan sebagai tanda penghormatan.

Dirande pala’, ditadah dengan telapak tangan || diterima atau dipelihara atau dilindungi dengan baik

Disau’ reken, kalah perhitungan || ditipu, tertipu

Disa’pek kaduaya, diambil seperti burung gagak || mengambil sesuatu tanpa memperhitungkan akibatnya

Disurrukan pekali, disisipkan bagai linggis || menguburkan mayat tanpa upacara adat atau pemotongan hewan

Ditete lendokanni, dibuatkan jembatan yang bisa jatuh || membuat strategi sedemikian rupa untuk menjatuhkan seseorang

Diumpu’ rari’, disambung seperti tali yang terbuat dari kulit kerbau yang sudah kering || disambung erat-erat

Dodo male, dodo sule, sarung pergi, sarung kembali || tidak ada perubahan atau peningkatan

Doke diperrokan, tombak yang diluncurkan || pelaksana, pesuruh

Dodo sangkalamma’na, sarung yang cocok baginya || pasangan yang cocok/serasi/sesuai

Lanjutan : Ungkapan-ungkapan Toraja #2

Reference : Bibliography 101

Related post :   Ancestor story : Bombo, jiwa setelah kematian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!