Menu Tutup

Ungkapan-ungkapan Toraja #2

Lanjutan ungkapan-ungkapan (idiom) Toraja. Kalimat pertama adalah ungkapan Toraja, bagian tengah merupakan arti kalimat dalam bahasa Indonesia dan kalimat ketiga adalah maknanya. Sebelumnya :  Ungkapan Toraja Bagian I

Ma’ballaran ampa’ || Membuka/menggelar tikar ||Kerelaan duduk bersama-sama

Ma’belo-belo puduk || Menghiasi mulut || Berbasa-basi

Ma’bari kapang || Senantiasa mengira-ngira || Selalu curiga

Ma’ asu sangpalungan || Bagai anjing satu tempat makan || Saling memengaruhi, jika ada satu yang marah maka seluruhnya ikut marah

Ma’illong kaso dalle || Berhidung tongkol jagung || Hidung mancung

Mengkarang to taru || Bekerja seperti orang tuli || Tekun bekerja

Ma’kada balle || Berbicara tidak benar || Tidak dapat dipercaya

Ma’koko kalepak || Berlipat tangan || Hanya berdiam diri dalam pelaksanaan suatu kegiatan

Ma’karangan siratuan || Pasir yang saling bercampur dan berhamburan || Nilai-nilai atau perbuatan baik atau kesaksian-kesaksian yang diamanatkan turun temurun sehingga tidak terlupakan

Makatti’ pudukna || Gatal mulutnya  || Selalu mengatakan yang kurang senonoh dan rahasia, tidak bisa menjaga rahasia

Makuyu langkan || Kusut seperti bulu elang || Sakit atau kurang sehat

Ma’lindo to kattai || Raut muka seperti orang sedang buang hajat || Wajah ketakutan

Male mengkara’pa || Pergi bermohon || Menyerahkan diri untuk memohon bantuan

Ma’layuk lamba’ || Berhiaskan pohon yang rindang dan besar || Bangsawan yang berkedudukan tinggi

Malia’ anna batu || Lebih sulit bergeser daripada batu || Susah bergerak, menjawab atau memberikan sesuatu

Malia’ penanna || Keras hatinya || Tidak rela atau berat menerima sesuatu

Ma’pangngan buni || Sembunyi makan sirih || Berzinah

Mentiro lindo || Melihat muka || Tidak objektif memilih

Ma’mate-mate ula’ || Berlaga’ mati-mati ular || Sengaja berdiam diri

Membuni kalapuan || Bersembunyi seperti kura-kura || Menyangkal walaupun semua orang mengetahuinya

Manarang ma’pamurru’-murru’ || Pintar meniup-niup || Dukun

Minda pa’pana’ta’ || Siapa yang mengerjakan || Siapa yang pertama atau dalangnya

Ma’mado allo || Tinggi matahari baru datang || Sengaja terlambat

Massura’ tallang || Mengukir bambu || Melaksanakan suatu pesta adat

Mariri tallo’ manuk || Kuning seperti telur ayam || Orang yang pucat sekali

Ma’talinga lalin || Bertelinga seperti lintah || Selalu mendengar dan mencampuri urusan orang lain

Mataran billa’ || Tajam sembilu || Orang berwatak keras, tegas dan pemarah

Membali puang || Berubah menjadi dewa || Orang yang telah meninggal

Ma’penaa urang || Bernyawa udang || Napas pendek

Maningo pia || Bermain seperti anak-anak || Orang dewasa yang bersifat kekanak-kanakan

Mariri punti tasak || Kuning bagai pisang yang telah masak || Pucat karena sakit

Menono’ suso || Berjalan seperti siput || Lambat sekali jalannya

Ma’raka’ guntu’ || Memeluk lutut || Pemalas, tidak melakukan apa-apa, tidak mau bekerja

Ma’rara tiku || Berdarah keliling || Keturunan campuran

Mengkarang baine || Bekerja layaknya wanita || Hanya mau mengerjakan yang ringan-ringan saja

Muane karra’ || Laki-laki keras || Laki-laki tampan dan berani

Ma’lingka maruru’ || Berjalan lurus || Tidak melakukan penyimpangan

Ma’lullung bura-bura || Berselubung busa air || Orang yang sudah sangat tua

Masemu dadii || Kasihan lahirmu || Orang yang bodoh, sial

Mela’ri namela’ || Mungkin datangnya lambat tetapi pasti || Sesuatu perkara pasti terjadi atau berlalu

Manarang balao || Pintar seperti tikus || Merusak apa yang sudah baik

Manarang umbuang kada || Pintar membuang kata || Pintar, bijaksana, fasih lidah, pandai menyesuaikan diri

Menono’ sirrin || Berjalan seperti semut || Berjalan pelan-pelan

Bangko malute || Lemas atau lentur || Mahir, cekatan dan gesit, luwes

Masero pindan || Bersih seperti pinggan || Suci dari dosa kesalahan

Natamben salio || Ditindih oleh kesibukan || Lalai, lupa karena sibuk

Panta’nakan lolo || Sawah yang bersih tempat pesemaian || Termpat perkembangan atau pokok asal-usul segala keturunan dan aluk/adat

Pa’wai mata || Sebagai air mata || Sumbangan dalam bentuk hewan kepada orang yang melaksanakan pesta, tetapi tidak mengharapkan kembalinya (balasannya)

Paarrang tutungan bia’ || Bercahaya bagai obor || Pemimpin yang membawa terang

Passa puso || Susut bagai jantung pisang || Semakin lama makin berkurang (kecil)

Pollo’na uai || Pantat air atau muara sungai || Sebelah selatan

Polo gandang || Patahan gendang || Dewata

Puduk tata’ || Mulut runcing || Tidak dapat menyimpan rahasia

Petiro rambu || Orang yang selalu melihat dimana ada asap || Sindiran kepada orang yang setiap pesta dimana saja dilaksanakan pasti ada atau hadir disitu

Parandena tondok || Penyanggah kampung || Pelindung kampung (pemimpin)

Randan puduk || Tepi mulut || Perkataan sikap atau pendapat

Sanda’ sangtikuan kollong || Tidak cukup untuk sekali melilit leher || Sangat sedikit

Sangserekan bane’ || Sama-sama dalam secarik daun pisang || Segolongan atau seagama

Sarambu peada’ || Nasihat yang mendidik || Petuah atau nasihat yang berharga

Sedanan rannu || Tempat menggantungkan harapan || Pemimpin atau pihak tempat menggantungkan harapan.


Reference : dari berbagai sumber

Related post :   Londe

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!