Menu Tutup

Tilangnga’ | Telaga alam, permandian & legenda

Tilangnga’ merupakan telaga atau kolam alam yang terletak di kelurahan Sarira, kecamatan Makale Utara, berjarak ±10 km dari kota Makale.

Tidak hanya sekedar kolam alam biasa, Tilangnga’ memiliki kisah-kisah melegenda yang merupakan bagian tak terpisahkan dari telaga ini. Ada yang kurang bila berkunjung ke sini tanpa mengetahui bagaimana sejarah dari pemandian alam Tilangnga’.

pict by @surya.sanjaya.1420

Telaga ini terletak di kaki gunung Sarira yang sangat sejuk. Mata air yang sangat jernih keluar dari celah-celah bebatuan dan tidak pernah kering meskipun kemarau panjang. Telaga ini dikelilingi oleh batu-batu karang dan pepohonan yang rimbun.

Akses lokasi  : jalan aspal,  ±1,5 km dari jalan poros Rantepao-Makale
Retribusi        : rp10.000 (turis lokal) dan rp.20.000 (turis mancanegara)
Daya tarik objek :

  • Telaga dengan kejernihan airnya
  • Masapi (ikan sidat)
  • Ibu dan anaknya yang berubah jadi batu

Sejarah penemuan telaga ini bermula dari seseorang yang bernama Arung berjalan-jalan bersama seekor anjingnya menyusur hutan. Beberapa saat lamanya berjalan, anjingnya tercebur ke dalam sebuah lobang, disangkanya lobang tersebut adalah lobang batu padahal itu adalah mata air yang telah tertutup dedaunan sehinggga tak kelihatan. Singkatnya, ia kemudian pulang dan memberitahu tetangganya sehingga datanglah mereka membersihkan tempat tersebut dan jadilah sebuah telaga.

pict by @veronica.ellia

Salah satu keunikan dari telaga ini adalah adanya masapi (ikan sidat) yang akan keluar mendekat apabila diberi makan telur. Ikan ini dikeramatkan oleh masyarakat sekitar sehingga tidak boleh diganggu. Sidat adalah jenis ikan yang hidup di tempat tertentu saja, salah satunya habitatnya ada di kolam ini.

Mitologi dari sidat dalam telaga ini adalah orang yang berubah jadi sidat besar. Suatu waktu terjadi perang saudara dan ia dikejar musuhnya sehingga melompat ke dalam telaga dan tidak pernah muncul kembali. Ia berubah menjadi sidat besar dalam telaga, oleh karena itulah sidat ini tidak boleh dimakan. Siapapun yang memakannya akan mati.

Legenda setempat, pada jaman dahulu ada seorang ibu beserta anaknya datang mencuci, padahal pantangan keras untuk mencuci apapun di telaga. Saat sedang mencuci terjadilah hujan deras sehingga si ibu beserta anaknya berteduh di dalam sebuah goa di bagian timur telaga.

Entah karena merasa dihambat oleh turunnya hujan mereka mengumpat, yang seharusnya tidak boleh berkata-kata sembarangan di tempat tersebut. Tak lama kilat dan petir menggelegar dengan dahsyat menyambar si ibu bersama anaknya yang duduk berteduh di dalam goa tersebut sehingga mereka menjadi batu.

Konon, apabila ada pasangan yang belum punya anak, mereka datang ke goa tersebut membawa telur dan dupa dan memohon kepada batu tersebut agar diberi keturunan. Apabila dikabulkan maka ketika si pemohon memegang payudara patung si ibu, akan keluar air putih meyerupai air susu ibu. Ada yang tertarik?, coba saja.

Reference : Bibliography 043.

Related post :   Patane Pong Massangka'

2 Comments

  1. Pingback:Objek wisata Lemo, Toraja | langkanmaega.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!