Menu Tutup

Tana’, strata sosial suku Toraja

Suku Toraja mengenal adanya tingkatan sosial atau strata/kedudukan dalam masyarakatnya. Strata sosial dalam bahasa Toraja disebut sebagai tana’. Pada masa kini sistem tana’ mulai luntur dan tak lagi dianggap terlalu penting. Namun di beberapa wilayah yang masih memegang teguh adat leluhur, tana’ menjadi sangat penting.

Tana’ sejak awal mulai dikenal digunakan sebagai penentu dalam pelaksanaan ritual adat masyarakat Toraja. Tana’ menjadi acuan apakah seseorang boleh melakukan ini itu atau posisinya dalam pekerjaan dan kedudukan yang boleh dia emban.

Sebenarnya sistem tana’ telah berusaha dirubah oleh pemerintahan kolonial Belanda saat mereka datang di Toraja. Peraturan tentang perubahan tana’ terutama yang ada hubungannya dengan perbudakan dikeluarkan melalui peraturan Mengenai Perbudakan dan Sistem Gadai oleh Gubernur Kroezen pada masa itu.

Penggolongan tana’ memiliki beberapa perbedaan di beberapa wilayah adat diantaranya :

Di wilayah Tallulembangna dikenal 3 tingkatan strata sosial atau tana’ yakni :

  1. Tana’ bulaan, yaitu golongan bangsawan atau tomakaka
  2. Tana’ bassi, yaitu golongan merdeka
  3. Tana’ karurung, yaitu golongan hamba atau kaunan

Sementara di wilayah utara dikenal 4 tingkatan tana’ :

  1. Tana’ bulaan, golongan bangsawan/tomakaka
  2. Tana’ bassi, golongan menengah
  3. Tana’ karurung, golongan merdeka
  4. Tana’ kua-kua, golongan hamba/kaunan. Kua-kua adalah sejenis tanaman air yang tidak menentu pendiriannya.

Tana’ bulaan merupakan kasta tertinggi dalam tatanan sosial orang Toraja. Golongan ini adalah orang yang terpandang, bijak dan perilakunya menjadi contoh bagi masyarakat. Sebuah literatur menyebutkan bahwa pembawa kasta ini adalah tomanurung Puang Tamboro Langi’ yang turun di buntu Kandora.

Tana’ bassi merupakan kasta nomor dua atau biasa disebut golongan menengah, mereka ini adalah pemimpin yang mau membela kepentingan masyarakat dan menegakkan keadilan. Yang mengenalkan tana’ bassi adalah Siambe’ Tangdilino’ yang memiliki 9 orang anak yang menyebarkan aluk todolo ke seluruh Toraja. Golongan ini juga disebut sebagai tomakaka.

Tana’ karurung adalah masyarakat rendah yang melakukan pekerjaan umum seperti bertani. Peralatan yang mereka gunakan hampir semuanya terbuat dari batang enau (karurung). Disebutkan bahwa tana’ karurung diperkenalkan oleh Ambe’ Andang dan istrinya yang turun di Tiangka’ (Sangalla’). Mereka ini lazim disebut To Pamulungan dan bergelar To Sama’.

Tana’ kua-kua merupakan golongan paling rendah atau sama dengan kaunan. Tana’ kua-kua muncul saat ketiga kelompok kasta diatas melanggar hukum atau perjanjian (basse) atau jatuh miskin sehingga dijadikan hamba.

Berikut ini beberapa istilah yang sering digunakan dalam tatanan kasta Toraja terutama pada wilayah Tallulembangna.

Puang, sebutan untuk keturunan murni dari para tomanurung.
Tomakaka, dalam bahasa Toraja diartikan sebagai “saudara yang lebih tua”, sebutan untuk golongan bangsawan. Kelompok ini terbagi atas :

  • Tomakaka banu, keturunan dari pendiri pertama sebuah kampung (penanian), mereka ini adalah Tomakaka
  • Tomakaka ma’tallo, adalah orang-orang berada (kaya) yang diangkat menjadi tomakaka atas dasar persetujuan para kepala atau pemimpin.
  • Tomakaka balau, adalah keturunan dari seorang tomakaka dengan wanita dari golongan yang rendah.

Anak disese, merupakan keturunan dari Puang dengan wanita dari golongan tomakaka.
To sama’ atau To tanpa, merupakan golongan yang tidak termasuk tomakaka namun bukan kaunan.
Kaunan, golongan terendah dan mereka inilah yang berstatus hamba. Kaunan terbagi atas :

  • Kaunan bulan, mereka yang membayar hutangnya dengan bekerja pada pemberi piutang. Mereka ini tidak diperjualbelikan.
  • Kaunan indan, adalah orang yang diperbudak karena berhutang dan dapat menjadi bebas jika membayar hutangnya kembali.
  • Kaunan mengkaranduk, adalah mereka yang tak mampu mempertahankan dirinya, keluarganya serta hartanya kemudian mencari perlindungan kepada orang yang berkuasa.
  • Kaunan tai manuk, adalah golongan hamba yang paling rendah karena menjadi budak dari seorang budak.

Asal mula adanya hamba (kaunan)

Terdapat dua pendapat mengenai asal mula adanya hamba. Tradisi pertama mengatakan bahwa status hamba berasal dari langit. Pongpakulando merupakan hamba yang turun dari langit. Tradisi kedua menyatakan bahwa hamba atau kaunan muncul  disebabkan oleh beberapa hal  antara lain terbelit hutang yang tidak mampu dibayar sehingga dijadikan hamba atau jatuh miskin atau kelaparan sehingga memperhambakan diri.

Terdapat beberapa macam golongan hamba yaitu :

  1. Kaunan mana’ (hamba biasa)
  2. Kaunan mengkaranduk atau tiparanduk
  3. Kaunan dialli (hamba yang dibeli)
  4. Kaunan taimanuk

Kaunan mana’/ hamba biasa di Makale digolongkan tana’ karurung sedangkan di wilayah utara digolongkan sebagai tana’ kua-kua. Tana’ kua-kua bersama dengan kaunan taimanuk tidak boleh ma’talla, yang artinya menebus status hamba pada dirinya dengan memotong kerbau atau babi sebanyak mungkin. Jadi mereka dan keturunannya adalah hamba turun temurun.

Kaunan mengkaranduk sebenarnya bukan kaunan/hamba, malahan bisa tomakaka/bangsawan namun karena jatuh miskin, ditimpa berbagai kesulitan (nalambi’ sumpunna kurin) atau terbelit hutang maka ia mengkaranduk (mempertahankan diri kepada orang lain).

Di Bori’ kaunan mengkaranduk disebut waka’ tabaro. Kaunan mengkaranduk boleh ma’talla sanda saratu’. Dalam prakteknya 10 ekor kerbau bisa dianggap 100 ekor kerbau. Sedangkan di wilayah tallulembangna semua jenis kaunan boleh ma’talla karena hubungan kasih (Kadang, 2012).

Pada masa lalu jika seorang kaunan meninggal dan tidak mempunyai keturunan maka harta miliknya menjadi milik tuannya. Semua golongan kaunan dapat menjadi orang bebas jika mereka sanggup membayar tebusan sesuai dengan aturan adat. Jumlah yang dibayarkan sesuai dengan tingkatan kaunan.

Masih ada dua golongan budak lagi yang dikenal pada masa lalu.  Mereka ini dikenal karena pekerjaannya yakni tomebalun dan to mangliu ulli’. Kedua jenis budak ini sama sekali tidak pernah dapat ditebus. To mangliu ulli’ adalah mereka yang bertugas mengumpulkan belatung dari mayat orang mati, dalam ritual kematian tempo dulu. To mebalun adalah mereka yang bertugas membungkus mayat.

Reference : Bibliography 043, 077, 174, 181

Related post :   Erong, peti purba suku Toraja

1 Comment

  1. mersia

    dear..
    1. apakah di dalam kebudayaan toraja ada tingkatan bahasa utk orangtua, seumuran, atau anak kecil ? seperti kromo inggil dalam bahasa jawa.
    2. apakah saat ini tana’ msh kental dan digunakan oleh masyarakat toraja

    please reply. terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!