Menu Tutup

Peribahasa Toraja #bagian 1

Peribahasa Toraja sarat akan pesan-pesan moral atau nilai-nilai kehidupan. Diungkapkan dengan bahasa tradisional asli yang terkadang sulit dicarikan terjemahannya atau padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Menjadi sebuah kebanggaan bahwa kita memiliki banyak hal yang tidak dijumpai di tempat lain, dan sebagai tanggung jawab moral kita bersama adalah mewariskannya dari generasi ke generasi.

Berikut ini adalah beberapa peribahasa-peribahasa Toraja yang dirangkum dari berbagai sumber baik tertulis maupun lisan. Kalimat pertama adalah peribahasa Toraja, bagian tengah merupakan arti kalimat dalam bahasa Indonesia dan kalimat ketiga adalah maknanya. Bagian IIBagian III

Ambayang raka kumua naden siuduk || Bagai buah ambayang (sejenis mangga) sehingga saling mencium bau || Hubungan keluarga tidak akan diketahui apabila tidak akrab atau tidak berkomunikasi

Balo’ to sangrapu tallang, kalau’ to sangkaponan ao’ || Jimat serumpun bambu, memelihara setunggul bambu aur || Tumpuan harapan dan kebanggaan keluarga

Balulang pili’na raka lamuala || Kulit pelipisnyakah yang akan kau ambil || Tidak mungkin kita mengharapkan sesuatu dari seseorang yang tidak mempunyai apa-apa

Balo’ ia kada misa’, pandanan tengko situru’ || Satu kata dan berjalan bersama-sama || Alangkah indahnya persatuan dan kesatuan

Banua piso ia kada || Perkataan itu sarung pisau || Suatu pendapat bisa diajukan untuk dipertimbangkan dan ditarik kembali bila tidak disetujui

Banua dirinding ada’ dibalabatu bisara || Rumah dindingnya adat, pondasinya musyawarah || Rumah tempat membina adat dengan dasar musyawarah (tongkonan layuk)

Banua disalli’ leko’, ditaruntun makairi || Rumah disantung terbalik, ditumbuk dari kiri || Kuburan [pekuburan di Toraja (patane ataupun pemakaman gua)  yang dikunci dari luar]

Bandangan tang liu-liu || Ombak benderang yang tak puas-puas || Orang yang tak terhingga kesombongannya

Barrena allo, lindona bulan || Sinarnya matahari, wajahnya bulan || Gelar atau sebutan kebangsawanan bagi pemimpin adat (puang di wilayah Tallulembangna)

Batu parandanganta sola nasang || Batu landasan kita semua || Pemimpin yang menjadi tumpuan harapan dan tempat bertanya

Bayo-bayonariki’ lino || Kita hanya bayang-bayangnya dunia || Kehidupan ini sifatnya hanya sementara

Beluak ka’tu naissan tau || Rambut putus diketahui orang || Sesuatu perbuatan bagaimanapun kecilnya atau disembunyikan pasti diketahui orang

Bingkung raka dibaa kumua na simpolo mabariang || Andai kata menggunakan cangkul, akan segera berbekas (menjadi bersih) || Suatu harapan tidak akan tercapai dalam sekejap, melainkan harus bertahap

Billa’na rampanan kapa’ || Sembilunya perkawinan || Harta perolehan selama perkawinan

Bua’raka nalasisarak mata malotong na mata mabusa || Bagian mata hitam dan bagian mata putih tidak mungkin berpisah || Hubungan kekeluargaan tidak akan terputus dalam keadaan apapun

Bua’raka nala den ma’kada misa || Tidak mungkin kita berkata sendiri || Setiap persoalan haruslah melalui pertimbangan bersama

Bua’raka nala sipolo ula’ tu masapi || Tidak mungkin ular bersambung dengan sidat || Kebaikan dan kejahatan tidak mungkin bersatu

Bua’raka lendu’ utan otin || Apa boleh buat sudah dapat pucuk sayur otin (sejenis sayuran) || Tidak ada harapan lagi

Bua’raka nala dipatobang rokko la’tana padang tu penaa melona tau || Kebaikan hati orang lain tidak mungkin dijatuhkan ke dalam tanah || Budi baik orang lain tidak boleh dilupakan walau dalam keadaan bagaimanapun

Buda sara’ dio kaleku || Banyak kegiatan pada diriku || Sibuk sekali

Da’mu mentiro langngan buntu kalando || Jangan engkau melihat ke gunung yang tinggi || Jangan memandang bulu, hanya menghargai orang yang tinggi kedudukannya.

Dena’ tang ungkande pare || Burung pipit yang tidak makan padi || Orang yang tidak ingin mengambil kepunyaan orang lain

Dena’ bang ia na pare tau || Dia selalu jadi burung pipit sedang orang lain  jadi padi || Orang yang selalu mengambil keuntungan dari orang lain

Den raka tau lasisala suka’na || Adakah orang yang berbeda dengan takarannya || Setiap orang tidak bisa menghindari takdirnya

Dipilei langsa’ ditonno’ bua kayu || Dipilih seperti buah langsat diambil bagai buah kayu || Pilihan baik-baik / pilihan tepat

Dirimbakan pare langko || Dikipaskan bagai padi hampa || Dimarahi secara kasar

Disamboi batu mapipang || Ditutupi batu lempeng || Menyelesaikan/mengakhiri persoalan dengan baik dan tidak akan diungkap lagi

Disuka’ lindona dilebu’ sallena || Diukur panjangnya, dililit besarnya || Berpikir matang dengan memperhitungkan segala kemungkinan sebelum mengambil keputusan

Dongka makati’na tondok || Talas yang gatal dalam negeri || Biang keladi yang sering membuat persoalan dalam suatu negeri

Dona’ tang narambu, diongna’ tangnato’doi || Diatas tidak terkena asap, dibawah tidak terkena tetesannya || Tidak campur tangan / tidak terlibat dalam suatu persoalan

Dolomo keppang miundi sondo’ || Sudah dulu timpang lalu ikut lagi cacat || Jangan mengikuti yang sudah salah

Dukku-dukku kayu tallang || Menyala seperti kayu bakar dari bambu || Semangat bekerja pada permulaan, tetapi makin lama makin berkurang, akhirnya terbengkalai

Gandang tang didedek, anna tipasengo-sengo || Gendang tidak dipukul lalu mengema-gema || Pimpinan yang tanggap kebutuhan rakyatnya sehingga dapat memenuhi kebutuhannya tanpa diminta.

Ia na tassu’mo tu kada, taanamo tau to || Kalau kata-kata telah diucapkan, sudah menjadi milik orang lain || Hati-hati berbicara / jangan sampai terlanjur berbicara

Iko bakku’ kake, aku bakku’ tang disula’i || Engkau bakul bocor dan saya bakul yang tidak ditambal || Engkau dan saya sama saja (tidak mampu dalam suatu hal)

Inang senga’ ke to senga’,inang laen ke to laen || Memang lain kalau orang lain || Memang orang mantap, orang mampu/sanggup

Kada disedan sarong, ditoke’ tambane baka || Kata yang digantung bagaikan tudung || Pesan yang diwariskan turun temurun

Kada tibaen bingnga’ tilengko’ pamisakan || Kata terpelanting bagai pecahan kayu || Kata-kata salah yang tidak senonoh atau kata-kata yang bukan pada tempatnya

Kada dipatama limbu || Kata yang dimasukkan dari segala pihak || Disorot dari segala segi

Kambang atena mentiro || Bengkak hatinya melihat || Selalu dengki dan iri hati melihat orang lain

Kambi’ panta’nakan lolo || Selalu berada pada pesemaian sejati || Dia yang memelihara negeri asal leluhur

Kasugiranri na dipembunian, apa kakalalaran ditungangngaran ara’ || Kekayaanlah yang disembunyikan, tetapi kemiskinan harus dibuka (tidak dapat disembunyikan) || Harus berterus terang tentang keberadaan kita

Kasalle naria aluk, lobo’ nasande bisara || Besar dipangku agama, bertumbuh ditopang oleh aturan || Hidup disiplin dan teratur, sesuai norma agama dan norma yang hidup dalam masyarakat

Ka’tu balusu naumpu’, polo gallang siredean || Putus gelang tangan dapat diikat, patah gelang kaki dapat disambung || Perpecahan atau perbedaan pendapat dapat dipersatukan atau diselesaikan sehingga dapat rukun kembali

Kayu kalandona tondok, lamba’ layukna pangleon || Kayu tingginya kampung, beringin tertinggi dalam negeri || Gelar atau sebutan pimpinan adat di wilayah utara Toraja

Kenna ladikitta’ tuona isi || Seandainya dapat dilihat bagaimana gigi tumbuh || Penyesalan karena sudah terlanjur

Kenna tang manarang gayang, kenna tang pande sarapang || Seandainya tidak pintar keris emas, bahkan kearifan keris pusaka || Laki-laki muda yang mulia lagi bijaksana

Kenna punti naba’bakkimo paniki || Seandainya pisang sudah dihinggapi kelelawar || Sudah tua

Kesusi siai lellengannna punti || Andaikan seperti ditebangnya pisang || Mati menurut umur

Keindo’ keambe’ tu kada || Kata-kata itu mempunyai ayah dan ibu || Setiap kata-kata itu pasti ada sumbernya

Kita raka lalosong na lise’na bo’bo’ || Kita ini tidak mungkin lebih banyak dari biji nasi || Apa yang ada, dinikmati bersama yang penting semua bisa makan

Kumande labakkila’, mengkarang la bukoyo || Kalau makan bagaikan kilat, bekerja bagaikan siput || Pemalas tetapi banyak makanK

Kulla’ dirande lulangngan || Siang ditadah keatas || Hari-hari yang akan datang

Ladi pokada rara’ disa’bu’ kandaure || Disebut bagai kalung emas disapa bagai kandaure (manik-manik) || Seseorang itu dipuji karena perbuatan baiknya

Laronno’ lulangngan rika tu daun kayu || Daun kayu tidak akan luruh keatas || Sifat dan tabiat seseorang tidak akan jauh dari sifat orangtuanya

Lasusi lolongna uai || Akan seperti mengalirnya air || Menurut alur keturunan

Da’ta susi dena’ anna pare || Kita jangan seperti burung pipit dengan padi || Jangan hanya satu pihak yang untung kemudian yang lain menjadi korban

Ladipokadaraka tu tae’na || Tidak mungkin menyebut sesuatu yang tidak ada || Barang yang ada tidak mungkin tersembunyi

Lobo’ nairi’ angin, kasalle nasimbo darinding || Bertumbuh ditiup angin || Manusia yang tumbuh dan berkembang dengan selamat

Selanjutnya : Bagian II Bagian III

Reference : Bibliography 101

Related post :   Ancestor story : Deata, roh penghuni alam semesta

3 Comments

  1. Pingback:Pribahasa tradisional Toraja, bag. 3 | langkanmaega.com

  2. Pingback:Ungkapan dan Pribahasa Toraja bagian II | langkanmaega.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!