Menu Tutup

Pallawa’ | Pemukiman tradisional & Cagar budaya

Pallawa’ merupakan kompleks pemukiman tradisional Toraja yang terdiri atas deretan puluhan tongkonan (rumah adat) serta alang (lumbung) yang masih mempertahankan ciri khas arsitektur tradisional Toraja asli. Pemukiman ini telah ada selama lebih dari 230 tahun.

Pemukiman tradisional Pallawa’

Keaslian dan ketuaan bangunan adat di Pallawa’ tampak dari atap bambunya yang telah ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman perdu seperti paku-pakuan dan anggrek. Demikian pula kayu bangunan, ukiran serta ornamen-ornamennya yang tampak lusuh. Namun disinilah letak kemegahan dari rumah adat Toraja yang klasik dan sakral itu. Arah bangunan adalah utara – selatan yang bersusun dari barat ke timur sesuai dengan tradisi leluhur.

Seseorang yang bernama To Madao yang berasal dari daerah sekitar Buntu (gunung) Sesean adalah pemukim pertama di tempat ini. Dahulu tempat ini merupakan daerah yang tidak berpenghuni karena itulah disebut Pallawa’ yang berasal dari kata “padang pallawangan” yang artinya tanah yang tidak didiami dan tidak ada pemiliknya.

To Madao kemudian menetap disitu dan menikah dengan Membura Bubun. Mereka memiliki empat orang anak yaitu Ne’ Totaru, Ne’ Nawa, Salombe dan Possengon. Ne’ Totaru sebagai generasi pertamalah yang mulai membangun tongkonan di Palawa’ ini sekitar 230 tahun yang lalu. Kemudian keturunan To Madao yang lain juga membangun tongkonan sehingga sekarang puluhan tongkonan telah berdiri berjejer di Palawa’.

Sekarang ini terdapat 12 buah tongkonan yang berhadapan dengan 18 buah alang. Tongkonan tersebut adalah :

  1. Tongkonan Buntu dibangun oleh Ne’ Totaru pada tahun 1788
  2. Tongkonan Salassa dibangun oleh Salassa pada tahun 1800
  3. Tongkonan Ne’ Niro dibangun oleh Ne’ Randan pada tahun 1828
  4. Tongkonan Ne’ Dorre dibangun oleh Ne’ Matasik pada tahun 1828
  5. Tongkonan Ne’ Katik dibangun oleh Ne’ Pipe pada tahun 1828
  6. Tongkonan Ne’ Sepiah dibangun oleh Ne’ Sepiah pada tahun 1830
  7. Tongkonan Ne’ Malle dibangun oleh Ne’ Malle pada tahun 1845
  8. Tongkonan Ne’ Babu’ dibangun oleh Ne’ Babu’ pada tahun 1850
  9. Tongkonan Bamba dibangun pada tahun 1852
  10. Tongkonan Babba-Babba dibangun pada tahun 1960
  11. Tongkonan Sasana Budaya dibangun pada tahun 1975

Tongkonan Salassa memegang peran sebagai tongkonan layuk sementara Tongkonan Buntu berstatus sebagai tongkonan pekaindoran. Dalam hierarki tongkonan di Toraja, tongkonan layuk adalah yang tertinggi dimana ia merupakan tempat lahirnya berbagai aturan-aturan adat dalam suatu masyarakat. Tongkonan pekaindoran menduduki posisi kedua sebagai pelaksana dari aturan-aturan tersebut.

Simbuang (menhir) dalam kompleks pemukiman tradisional Pallawa’

Dalam satu kompleks pemukiman tradisional Toraja terdapat berbagai elemen yang merupakan satu kesatuan yaitu tongkonan, alang (lumbung), rante (tempat upacara), liang (pemakaman), hutan bambu, sawah dan kebun.

Rante di Pallawa’ terletak tidak jauh dari lokasi tongkonan yang disebut rante Pa’padanunan. Disitu berdiri puluhan simbuang (menhir) dalam berbagai ukuran. Sementara liang terletak di Tiroallo dan Kamandi. Hutan bambu dan kebun ada di sekitar kompleks tongkonan.

Pallawa’ terletak sekitar 12 km di arah utara kota Rantepao, berada di Kelurahan Palawa’, Kecamatan Sesean, Toraja Utara. Situs Palawa’ dinyatakan sebagai tinggalan purbakala yang keberadaannya dilindungi oleh undang-undang  tentang Cagar budaya dan Kepurbakalaan.

Reference : Bibliography 074

Related post :   Marante Tondon | Situs purba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!