Menu Tutup

Museum Ne’ Gandeng | Museum budaya rambu solo’

Museum Ne’ Gandeng  merupakan satu kompleks bangunan rumah adat Toraja dan beragam koleksinya yang berdiri diatas lahan seluas ±4 ha. Koleksi budaya dari museum ini adalah perlengkapan dan barang yang digunakan dalam sebuah ritus rambu solo’ (ritual kematian).

Bangunan adat disini awalnya didirikan untuk prosesi pemakaman seorang wanita yang bernama Ne’ Gandeng. Beliau meninggal pada tahun 1992. Pembangunan memakan waktu 8 tahun yang dimulai pada tahun 1994 dan selesai pada 2001.

Museum Ne’ Gandeng

Dalam ritual rambu solo’, lantang merupakan pondok-pondok sementara yang digunakan untuk menampung keluarga dan para tamu yang datang menghadiri upacara. Pada umumnya setelah ritual selesai, maka pondok tersebut dibiarkan roboh atau dibongkar.

Namun pada saat rencana pembangunan lantang untuk upacara pemakaman Ne’ Gandeng, terdapat gagasan dari salah satu keluarga pada saat itu untuk membuat pondok permanen yang menyerupai rumah adat Toraja yang ditata sesuai aturan adat budaya.

Menhir di tengah museum

Setelah ritual pemakaman selesai pada awal 2002, tempat ini kemudian langsung diubah menjadi museum oleh pemerintah Tana Toraja kala itu. Sebuah museum rambu solo’. Koleksi dari museum ini antara lain :

  • Terdapat 6 buah alang di tengah museum. Beberapa alang dapat digunakan sebagai penginapan/homestay.
  • Beberapa pondok permanen yang berbentuk rumah adat, dapat digunakan sebagai penginapan oleh para pengunjung.
  • Rante dengan menhir-menhir yang berdiri tegak di tengah kompleks museum.
  • Patung atau tau-tau dari alm. Ne’ Gandeng
  • Peralatan rambu solo’ seperti lakkian (tempat mengusung peti mati), bombongan dan lain-lain.

Museum Ne’ Gandeng berjarak ±7 km dari pusat kota Rantepao, terletak di Malakiri, lembang Palangi, kecamatan Balusu, Toraja Utara. Kini museum Ne’ Gandeng dikelola oleh Yayasan Ne’ Gandeng.

Kompleks museum Ne’ Gandeng

Halaman museum Ne’ gandeng sangat luas sehingga berbagai kegiatan selain upacara rambu solo’ dapat dilakukan disini. Pengelola membuka museum untuk berbagai acara seperti kegiatan rohani, meeting, olahraga, kegiatan budaya, festival dan resepsi pernikahan.

Related post :   Rante Sirrin | Kompleks megalit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!