Menu Tutup

Makam AA. van Loosdrecht & para Zendeling

Bagi orang Toraja yang tak memahami sejarah, maka makam di Karassik ini tentu tak jauh beda dengan pemakaman lainnya. Ada batu nisan dan dibawahnya terkubur jasad mereka yang telah beristirahat dan jadi debu, dan mungkin nama mereka sudah terlupakan sama sekali.

Makam dari para Zendeling di Karassik, Rantepao

Tetapi sejarah adalah pengingat yang abadi. Sejarah tentu tak bisa terhapus begitu saja meski si pembuat sejarah telah jadi debu. Makam ini adalah makam yang ditempati oleh mereka yang telah berjasa mengubah Toraja. Sebagian besar dari mereka rata-rata masih muda, tetapi rela meninggalkan kenyamanan di negeri mereka dan memilih untuk menyeberangi lautan menuju ke negeri yang dulunya sangat terisolir di atas pegunungan. Mereka adalah para zendeling atau misionaris yang bertugas di Toraja dan sekitarnya.

Pemakaman para Zendeling dan keluarganya ini berada di Karassik, Rantepao. Selama hampir seratus tahun, makam bersejarah ini dijaga dan dipelihara oleh warga dan anggota Jemaat Karassik.

Terdapat 11 orang (10 orang Belanda dan 1 orang Toraja) dengan 9 batu nisan disertai dengan nama-nama mereka yang terukir di batu nisan tersebut. Mereka adalah :

  1. Antonie Aris van de Loosdrecht. Lahir pada 21 Maret 1885 dan meninggal pada 26 Juli 1917 di Bori’. Beliau adalah utusan dari GZB (Gereformeerde Zendingsbond) yang berangkat dari Belanda pada 5 September 1913 dan tiba di Rantepao pada 10 November 1913. Menjadi pionir pertama yang tiba di Toraja untuk tugas penginjilan. Ia ditakdirkan menjadi martir di Toraja pada umur yang masih muda, 32 tahun.
    Makam dari AA van de Loosdrecht
  2. Johannes Belksma (58 tahun). Lahir 19 Oktober 1884 dan meninggal pada 4 Maret 1942. Memiliki 7 orang anak, 3 diantaranya pusaranya ada di tempat ini. Beliau adalah pendiri dari Noormaalcursus dan Sekolah Guru Injil di Barana’ pada tahun 1917.
  3. Abraham Belksma (36 tahun) bersama istrinya Maria Johanna Belksma Bronsveld (64 tahun). Abraham lahir pada 15 Februari 1909 dan meninggal pada 24 Juli 1945. Maria lahir pada 13 Agustus 1909 dan meninggal pada 11 Februari 1973. Abraham Belksma adalah putra sulung dari Johannes Belksma dan merupakan kakak dari Lieuwe dan Cornelia Belksma. Tahun 1934-1937 ia bertindak sebagai Schoolbeheerder (pengawas sekolah) sekolah-sekolah kristen yang didirikan Belanda di Makale.
  4. Dua bersaudara Lieuwe Belksma (8 tahun) dan Cornelia Belksma (3 tahun), merupakan anak dari pasangan Johannes Belksma dan Hiltje Lieuwes Greidanus. Liuwe lahir pada 14 September 1910 dan meninggal pada 1 Mei 1918. Cornelia lahir pada 3 Maret 1915 dan meninggal pada 26 April 1918. Mereka berdua merupakan korban dari wabah penyakit flu spanyol (Toraja: ra’ba biang) yang merajalela kala itu.
  5. Jouke Goslinga (1 tahun). Lahir pada 7 September 1943 dan meninggal pada 2 November 1944 oleh karena wabah penyakit. Ia adalah putra bungsu dari Dr. JJ. Goslinga, seorang dokter misionaris Belanda yang bertugas di Toraja dan sekitarnya, yang telah banyak berjasa membantu menangani masalah kesehatan di Toraja pada masa lampau, termasuk didirikannya perawatan khusus penderita kusta di Batulelleng, Rantepao.
  6. Andrlas Edgar van der Veen (22 tahun). Lahir pada 11 Mei 1923 di Rantepao dan meninggal pada 8 Februari 1945. Edgar adalah putra dari Henrik van der Veen seorang ahli bahasa, penerjemah alkitab ke dalam bahasa Toraja dan penyusun kamus Toraja –Indonesia.
    Andrlas Edgar van der Veen
  7. Cornelis Balke (31 tahun), lahir pada 8 Desember 1926 dan meninggal pada 27 Desember 1957. Ia merupakan seorang misionaris Belanda yang bertugas di Toraja dan menjadi guru sekolah Alkitab dan perwakilan misi Geredja Toradja pada 1956 – 1957. Beliau meninggal pada usia muda saat berolahraga di kantornya.
  8. Anna Maria van Weerden (32 tahun), lahir 16 Februari 1902 dan meninggal pada 22 Oktober 1934. Ia adalah istri dari Harm Jan van Werdeen, seorang misionaris pertama di tanah Rongkong.
  9. M. Sirupa (54 tahun), lahir pada 13 Agustus 1906 dan meninggal pada 17 Oktober 1960. Ia menjadi satu-satunya orang Toraja yang pusaranya ada di pemakaman ini. Beliau adalah pendeta dari Gereja Toraja Jemaat Sriti, salah satu pionir yang membuka desa Sriti (Seriti) di Lamasi pada masa pemberontakan DI/TII.

Makam sakral ini merupakan destinasi religi dan sejarah bagi etnis Toraja yang memeluk agama Kristen. Betapa tidak, buah yang kita nikmati hari ini adalah pohon yang susah payah mereka tanam lebih dari 100 tahun yang lalu dengan mengorbankan darah dan jiwa mereka.

“Jika kamu tidak tahu sejarah, maka kamu tidak tahu apa-apa. Kamu adalah daun yang tidak tahu bahwa kamu adalah bagian dari pohon” (Michael Crichton).

Related post :   Lolai | Negeri diatas awan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!