Menu Tutup

Erong, peti purba suku Toraja

Erong adalah peti kayu khusus yang digunakan oleh leluhur suku Toraja sebagai wadah penguburan pada masa lampau. Peti kuno ini merupakan implementasi keyakinan leluhur tentang perjalanan arwah dan kehidupan di alam berikutnya setelah kematian.

Hanya golongan bangsawan atau masyarakat biasa yang mampu secara ekonomi saja yang bisa menggunakan erong. Jenis erong yang digunakan pun disesuaikan dengan strata sosial yang bersangkutan. Susunan penempatan erong pada liang (kompleks pemakaman) juga merujuk pada hal yang sama.

Erong berbentuk perahu besar dan berukir

Bentuk erong ada tiga jenis yaitu berbentuk perahu, kerbau dan babi. Pemilihan ketiga bentuk ini berkaitan dengan kepercayaan leluhur bahwa perjalanan arwah ke puya (dunia arwah) harus melalui wadah sebagai kendaraan menuju kesana. Pemilihan bentuk perahu didasarkan pada sebuah keyakinan bahwa kedatangan nenek moyang orang Toraja tiba dengan menggunakan perahu. Oleh karena itu perjalan ke puya juga akan menggunakan perahu.

Sementara itu bentuk kerbau dan babi digunakan karena kedua binatang inilah yang dikorbankan pada upacara rambu solo’ (upacara adat kematian). Dalam kepercayaan tradisional, arwah leluhur akan sampai ke puya apabila ada bekal yang dibawa serta dalam bentuk korban yang dipersembahkan ini. Jumlah minimal kerbau dan babi yang dikorbankan sesuai dengan starta sosial.

Dari ketiga jenis erong, ada yang bentuknya sederhana dan ada pula yang rumit disertai dengan ukiran-ukiran. Terdapat berbagai ukiran unik yang ditemukan pada bagian luar erong seperti ukiran manusia menarik naga, manusia menarik kerbau dan lain-lain. Bentuk erong dan ukiran ini menunjukkan stratifikasi sosial pemilik erong.

Erong yang berbentuk perahu berukuran besar dan memiliki banyak ukiran, digunakan oleh seorang bangsawan (tana’ bulaan) yang pernah menjadi pemimpin, kaya, dan pemberani. Sementara jenis erong yang lain seperti erong yang berbentuk perahu berukuran kecil tanpa ukiran, erong berbentuk kerbau dan erong berbentuk babi, digunakan oleh kaum bangsawan level 2 (tana’ bassi) dan rakyat biasa (tana’ karurung) yang mampu secara ekonomi.

Golongan hamba atau kaunan (tana’ kua-kua) tidak dibuatkan erong meskipun dikuburkan pada tempat yang sama dengan golongan bangsawan dan rakyat biasa, namun mereka diletakkan di dasar gua tanpa wadah penguburan.

Tata letak erong pada liang atau tebing pemakaman tidak sembarangan tetapi disesuaikan dengan strata sosial. Erong bangsawan yakni bentuk perahu ukuran besar dan berukir akan berada di tempat yang paling tinggi dari semua erong. Kemudian dibawahnya menyusul erong-erong yang lain dari kaum bangsawan, lalu di tempat terbawah adalah erong yang bentuknya sederhana tanpa ukiran milik rakyat biasa.

Erong digantung pada tebing batu

Seiring dengan berlalunya waktu, erong-erong yang pada awalnya tergantung akan jatuh satu persatu ke dasar tebing atau gua karena penyangga erong maupun erong itu sendiri mengalami pelapukan. Keluarga pemilik situs atau makam kemudian mengumpulkan serpihan erong serta isinya tersebut pada satu tempat di dasar gua.

Di dalam erong juga terdapat bekal kubur yang disertakan yakni barang-barang yang dimiliki oleh pemilik erong semasa hidupnya diantaranya emas, perak, mata uang, keramik dan barang berharga lainnya. Namun kini dipastikan benda-benda ini sudah lama hilang lenyap dicuri oleh para pencari barang antik di masa lalu.

Kini di hampir semua situs purbakala Toraja yang memiliki erong, peninggalan yang masih bisa ditemui hanyalah erong itu sendiri, tengkorak dan tulang belulang pemilik erong serta beberapa barang peninggalan lain yang seperti kandean dulang (tempat makan jaman dulu) dan barang lain yang tidak dapat dicuri.

Beberapa situs terkenal yang memiliki erong antara lain Lombok Parinding, Ke’te’ Kesu’, Tampang Allo dan Londa.

Related post :   Ensiklopedia : Toraja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!