Menu Tutup

Buntao’ Patang Penanian Misa’ Ba’bana

Buntao’ Patang Penanian Misa’ Ba’bana by Patrix Barumbun Tangdirerung

Buntao’ Patang Penanian Misa’ Ba’bana terdiri dari 4 wilayah adat yang dilembagakan dalam tatanan kaparengngesan. Satu wilayah adat dengan yang lainnya sederajat dengan pembagian fungsi yang berbeda sesuai potensi yang dimiliki oleh masing-masing wilayah adat, kesetaraan disebut “maindo’ palapa”. Keempat kaparengngesan itu antara lain:

Rindingkila’

Todiporinding kila’ ilan padang di Buntao’, todiposapan susu landuk ilan patang penanian. Digente’: to malute tanduk umpolalan suro pa’tong, to mabangko karasan umpolamban patuang lambe’. Tountutu’ lalanna serre’ lampung, to ullepe’ pentutuanna kakoyan balo.

  • Parengnge’ pertama: Tandiarrang (T. To’ Saruran).
  • Patulak pertama: Ne’ Kano (T. Tanete, Ba’tan).
  • Fungsi : Basis militer, pertahanan/keamanan

Issong Kalua’

Todipoissong kalua’ ilan patang penanian, to dipopalipu’ kaissi ilan padang di Buntao’. Digente’ : to siindo’ kara kayu nangka, to siambe’ pesangle lebani’ ilan padang di Buntao’.

  • Fungsi : pusat pangan, logistik
  • Parengnge’ pertama: Kattu

Tiropadang (T. Basse)

Tondok dinai unindo’ basse kasalle unambe’ panda dipomaro’son. Digente’: to siindo’ rebongan didi, to siambe’ aparan kayu-kayu, kedipamatua indukki bassena katonan padang, kedipabanu’ karurunganni passaparan mata kali.

  • Parengnge’ pertama: Tangditonda

Sapan Kua-kua (Paniki)

Todiporinding daun induk ilan patang penanian, to diposapan kua-kua ilan padang di Buntao’.

  • Patulak Pertama: To Barumbun
  • Parengnge’ pertama: Ne’Leppe

Menurut Tilang Tangdirerung-Pong Palita, atau Pong Barumbun, salah satu pemuka adat di Buntao’, sebelum tatanan kaparengngesan (yang merupakan lembaga adat yang muncul belakangan), peran kepemimpinan di masing-masing wilayah dilakukan oleh Patulak (khususnya di wilayah adat Rindingkila’ dan Sapan Kua-Kua). Patulak adalah keturunan Anak Patalo dan Pa’buntuan Sugi’. Atau To Bendan dan To Sumanduk.

Buntao’ diapit oleh sejumlah wilayah adat yang di masa lalu secara konstan berdinamika baik dalam situasi damai maupun saling mengancam/perang. Misalnya Kesu’, Sangalla’ dan Basse Sangtempe’. Buntao’ juga aktif dalam dinamika ini.

Seiring dengan pasang surut hubungan tersebut maka atas dasar kepentingan memperluas dan mempertahankan eksistensi wilayah adat, serta menjamin munculnya kepemimpinan yang efektif dan berwibawa maka dibentuklah Takinan La’bo sebagai koordinator 4 kaparengngesan. Selain sebagai koordinator (eksekutif), Takinan la’bo’ juga memiliki fungsi yudikatif. Yakni sebagai lembaga tertinggi dan terakhir yang mengadili perkara-perkara adat yang tidak bisa diselesaikan oleh Parengnge’.

“Tidak ada lagi upaya hukum berikut setelah sebuah perkara yang disepakati diselesaikan di peradilan adat diputuskan oleh Takinan La’bo’,” kata Pong Barumbun.

Fungsi Takinan La’bo’ yang mendasar dalam tatanan masyarakat adat Buntao’ dapat dirujuk pada gelarnya, “Todibarana’ parerung, todipolamba’ paonganan”. Atau yang lebih lengkap, “To Tumakin La’bo’, to tumekken doke, to bendan barana’ parerung, to unnannang lamba’ pentionganan, unnonganni patang penanian, urrerung padang di Buntao’ lako mintu’ tallang kamban, makalimama’na bulo mapapa’ kedenni to palutu tombang, to paossa’ balatana’.

Takinan la’bo’ pertama di Buntao’ adalah Ne’ Lai’ Kata, yang secara aklamasi menjabat sebagai To Tumakin La’bo’ saat Buntao menghadapi ancaman invasi Kesu’ dan Sangalla’. Namun juga di satu sisi dalam upaya memperluas wilayah ke bagian timur. Di era inilah, wilayah adat Buntao’ menjadi sangat luas karena meliputi 11 wilayah adat. 7 wilayah tambahan muncul ketika Ne’ Lai’ Kata menaklukkan wilayah to ma’kuan pare Bastem antara lain :

  1. Bokin : tondok di pogorang manik, dipolempo bulawan, dipogorang-gorang manik.
  2. Buangin : to diporinding daun induk todiposapan kua-kua.
  3. Issong, to dipomaririnna tallo’.
  4. Sendana, to dipopali sumbukna.
  5. Karre, to diposedanan rannu.
  6. Limbong to diposedanan siruk.
  7. Pangiu, to dipotete kalambanan.

Sudah 7 generasi, lembaga takinan la’bo’ masih eksis, diakui dan mendapat legitimasi yang kuat dalam lingkup masyarakat adat Buntao’ hingga saat ini.

Reference : Bibliography 183

Related post :   Sejarah Topadatindo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!