Menu Tutup

Asal usul nama “Tondok lepongan bulan, tana matari’ allo”

Dikisahkan bahwa berabad-abad silam, seluruh lembah di sebuah wilayah pulau Sulawesi, tergenang oleh air dan hanya dataran tinggi berupa pegunungan yang kelihatan. Dataran yang kelihatan tersebut nampak seperti pulau-pulau kecil.

Kisah kuno yang diceritakan turun temurun dalam masyarakat Toraja menyebutkan bahwa leluhur mereka datang dengan menggunakan perahu-perahu (lembang) dari arah selatan. Dari laut mereka menyusur sungai Sa’dan menuju ke utara.

Dengan menyusur sungai, datanglah rombongan tersebut berkelompok masing-masing dengan perahunya dan memilih pulau-pulau (gunung) sebagai daerah kekuasaannya masing-masing. Kelompok-kelompok tersebut dinamakan arroan. Orang-orang tersebut adalah leluhur pertama suku Toraja.

Mereka baru berhenti ketika perahu mereka tak bisa lagi melanjutkan perjalanan. Mereka kemudian naik ke darat dan membangun permukiman.

Dari atas gunung-gunung tersebut mereka memandang sekeliling dan tampak bahwa negeri itu bundar seperti bulan. Ketika matahari mulai bersinar dan menyinari seluruh tanah itu, mereka menyebutnya nagonting matari’ allo’. Leluhur kemudian menamakan wilayah ini sebagai tondok lepongan bulan, tana/nagonting matari’ allo. Mereka akhirnya dikenal dengan sebutan to Lepongan Bulan atau orang yang tinggal di Lepongan Bulan.

Konon dahulu kala ada leluhur yang berhasil membuka terobosan air di Sapan Deata sehingga dataran rendah di wilayah Lepongan bulan tidak lagi tergenang air. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya  kerang laut, siput dan sebagainya di gua-gua pegunungan.

Itulah sebutan awal bagi negeri dimana leluhur pertama suku Toraja menetap. Penyebutan nama “Toraja” belum ada saat itu, karena baru digunakan beberapa generasi setelahnya. Setelah penggunaan nama  “Toraja” lebih dikenal, nama pertama diatas kemudian digunakan sebagai gelar untuk Toraja.

Meskipun secara geografis, wilayah yang ditempati leluhur serta keturunannya itu tidaklah benar-benar bulat, namun penamaan gelar tersebut lebih mengarah kepada sebuah falsafah. Tondok lepongan bulan tana matari’ allo mengandung arti bahwa suatu negeri yang bentuk kemasyarakatan dan pemerintahannya membentuk suatu kesatuan yang bulat layaknya bulan dan matahari.

Tondok Lepongan Bulan (Toraja) adalah persekutuan yang terdiri dari 32 wilayah adat. Hal ini berarti bahwa Toraja tidak diperintah oleh seorang penguasa tunggal, namun oleh masing-masing pemangku adat di masing-masing wilayah adat. Wilayah adat yang berbeda namun memiliki pandangan hidup dan keyakinan yang sama sebagai tali pengikat yang mempersatukan seluruh orang Toraja.

Reference : Bibliography 020, 043, 077

Related post :   Ensiklopedia : Toraja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!