Menu Tutup

Asal mula nama “Toraya” dan “Toraja”  

Pada mulanya penduduk yang mendiami pegunungan di sebelah utara Sulawesi Selatan menamakan wilayah mereka sebagai Tondok lepongan bulan tana matari’ allo, artinya negeri yang bentuk pemerintahan dan kemasyarakatannya memiliki kebulatan layaknya bulan dan matahari. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan to Lepongan Bulan atau orang dari Lepongan Bulan.

Konon, nama tersebut berangsur berubah ketika mereka mulai menjalin hubungan dengan orang-orang diluar wilayah Lepongan Bulan. Hubungan perdagangan terjadi antara lain dengan negeri tetangga seperti Luwu dan Sidenreng. Hubungan kebangsawanan dengan Gowa melalui Lakipadada.

Penyebutan Toraja menjadi  nama suku bangsa berawal ketika dua orang Belanda yaitu Nicolaas Adriani seorang pakar bahasa dan teolog, serta Albertus Christiaan Kruyt seorang misionaris dan etnografer menggunakan nama tersebut dalam tulisan-tulisan ilmiah mereka.

Penggunaan nama ini kemudian diikuti oleh penulis-penulis lain baik ilmuwan, misionaris dan para pegawai pemerintah kolonial Belanda. Nama tersebut kemudian digunakan secara resmi hingga sekarang.

Lalu dari mana asalnya kata “Toraja” atau “toraya” atau “Tana Toraja” ?. Dalam  beberapa literatur disebutkan beberapa pengertian dan asal mula dikenalnya nama Toraja.

toraa atau toraya

Kata “Toraja ” dalam kamus bahasa Toraja disebut “Toraa ” atau “Toraya ”. “Toraa ” terdiri atas dua kata yaitu “to ” berarti orang dan “raa ” berarti murah. Jadi “Toraa ” berarti orang pemurah hati. Sementara itu istilah “Toraya ” berasal dari kata “toraya ” yang terdiri atas “to ” berarti orang dan “raya ” berarti terhormat atau raja, sehingga “Toraya ” berarti  “orang terhormat” atau ”raja”.

Pendapat lain menyebut bahwa “toraya ” berasal dari kata “to ” dan “maraya ”, “to ” artinya “tau ” atau orang dan “maraya ” artinya besar, mulia atau orang besar (bangsawan).

to raja

Versi berikutnya disebutkan bahwa kata “Toraja ” terdiri dari dua buah suku kata yakni “To ” dan “Raja ”.To ” artinya “tau ” atau orang dan “raja ” artinya orang besar atau bangsawan. Hal ini sejalan dengan pengakuan sebagian raja-raja di Sulawesi Selatan yang menyebut bahwa leluhur mereka asalnya dari Toraja.

Ini adalah pengertian Toraja yang sesungguhnya bila dikaitkan dengan asal usul keturunan raja-raja di Sulawesi Selatan. Sejarah menyebut, darah kebangsawanan Toraja memiliki kaitan yang erat dengan beberapa kerajaan besar di Sulawesi Selatan di masa lalu diantaranya kerajaan Luwu, Bone dan Gowa.  (Silahkan dibaca dalam literatur-literatur mengenai leluhur suku Toraja).

to raya

Pemahaman lain mengenai asal usul kata Toraja atau toraya yang dikutip dari sebuah literatur (Gasong, 2013) berikut ini : Ratusan tahun sebelum kedatangan kolonial Belanda, orang Toraja telah mempunyai kebudayaan yang tinggi dalam berbagai bidang seperti bangunan, ukiran, membuat perhiasan, pertanian, tenun dan perdagangan. Khusus dalam perdagangan, sistem barter telah dilakukan orang Toraja beberapa abad lalu seperti tukar menukar barang-barang kebutuhan pokok.  Kegiatan ini dilakukan di suatu pelabuhan perahu yang terdekat pada masa itu yaitu di Bayo atau Bajo yang terletak antara Siwa dan Pa’tedong di Palopo bagian selatan.

Orang dari Tanah Lepongan Bulan (Lepongan Bulan adalah nama pertama yang digunakan oleh leluhur orang Toraja untuk menyebut daerah mereka, waktu itu kata “toraja” atau “toraya” belum dikenal) pergi berdagang dengan memikul barang-barang jualannya ke Bayo dengan berjalan kaki berhari-hari dengan melalui Batualu, Tabi, Lempobatu terus ke Ranteballa, Basse Sangtempe’ di bagian selatan dan keluar di kampung Raya sebagai pintu gerbangnya Lepongan Bulan pada masa itu.

Mereka serupa dan sama-sama memakai cawat dengan orang-orang di Raya dan bahasa serta logatnya agak berbeda satu sama lain. Berbeda tetapi tidak diperhatikan oleh orang Bajo yang berbahasa Luwu yang hampir tidak berbeda dengan bahasa Toraja yang digunakan oleh To (orang) Lepongan Bulan serta pandai berbahasa Bugis. Karena pergaulan mereka seluruh pedagang barter yang keluar dari Raya dianggapnya penduduk Raya semua. Mungkin pula Tobayo tidak mengetahui apakah kampung Raya itu besar atau kecil.

Demikian juga terhadap penduduknya tentu mereka tidak dapat membedakan yang mana to Pantilang, to Tallulembangna dan lain-lainnya, sehingga semuanya itu hanya dikenal sebagai orang dari Raya atau Toraya yang lama-kelamaan dikenal dan disebut oleh orang luar seperti orang Bugis yang menyebut dan memanggil kita dengan nama Toraya atau Toraja sesuai dengan kebiasaan mereka yang tetap berarti Toraya juga.

Itulah asal usul nama Toraya atau Toraja yang berasal dari nama sebuah tempat yang dahulu jadi pintu gerbang perdagangan barter antara orang Toraja dengan Orang Bugis perahu melalui perantaraan orang-orang Bayo atau Bajo di Palopo Selatan.

Jadi “Toraya ” atau “Toraja ” berasal dari nama penduduk Raya atau Toraya (Toraja) yang kini lazim disebut dan ditulis dengan Toraja. Dengan melalui juru bahasa yang kebanyakan orang Bugis pada waktu itu dan menyampaikannya kepada orang Belanda yang kemudian menggunakannya didalam pemerintahan dengan menamakan wilayah pemukiman orang Toraja dengan sebutan Toraja Landen atau dalam bahasa Toraja disebut Tana Toraja, dan pada akhirnya wilayah yang dahulu bernama Lepongan Bulan berubah menjadi Tana Toraja.

to riaja

Dalam versi yang lain, kata “toraja ” adalah penyebutan orang Bugis Sidenreng terhadap orang yang berasal dari pegunungan di sebelah utara kerajaan Sidenreng. Mereka menyebut “to riaja ”, “to ” artinya orang, “ri ” artinya dari dan “aja ” artinya atas atau utara. Jadi “to riaja ” artinya orang yang berdiam di negeri atas, disebelah utara atau pegunungan.

Kerajaan Sidenreng pada masa itu merupakan salah satu mitra dagang To Lepongan Bulan (Toraja) selain Kerajaan Luwu.

to riajang

Kemungkinan lain adalah penyebutan orang Luwu yang menamakan “to riajang ” yang berarti orang yang berdiam di sebelah barat, “to ” artinya orang dan “riajang ” artinya barat. Wilayah orang Toraja memang berada di sebelah barat kerajaan Luwu pada masa itu.

Menurut tradisi, leluhur Toraja menamakan kerajaan Luwu sebagai kadatuan matallo atau kerajaan yang berada di sebelah timur. Sementara wilayah Lepongan Bulan (Toraja) disebut sebagai kadatuan matampu’ atau kerajaan di sebelah barat.

tau raya

Kata “toraja ” mungkin juga berasal dari orang-orang Makassar di kesultanan Gowa dahulu yang merujuk pada seorang bangsawan yang datang dari pegunungan sebelah utara yaitu Lakipadada. Saat ia pergi mengembara dan tiba di Gowa, orang tidak mengetahui darimana asalnya, namun rupa dan tingkahnya seperti bangsawan.

Pendapat umum di Gowa mengatakan bahwa bangsawan asing itu berasal dari sebelah selatan. Jadi orang menyebutnya sebagai “tau raya ”. “Tau ” artinya orang dan “raya ” artinya selatan.

Semua versi penamaan diatas dapat diterima meskipun terdapat beberapa perbedaan. Satu kesimpulan umum yang dapat diperoleh bahwa Toraja adalah negeri para bangsawan yang berada di pegunungan sebelah utara jazirah Sulawesi Selatan.

Meskipun nama “Lepongan Bulan ” tidak umum lagi didengar dalam bahasa sehari-hari, namun dalam upacara atau ritual adat budaya penyebutan nama ini sangat sering. Nama tersebut telah diabadikan oleh orang Toraja menjadi sebuah gelar untuk menyanjung tanah leluhur mereka sebagai “tondok lepongan bulan tana matari’ allo ”.

Orang Toraja lebih akrab dengan kata “toraya ” yang merujuk pada dua fungsi yaitu untuk menyebut daerah (Toraya) dan juga orangnya (Toraya). Kata “Toraja” digunakan dalam bahasa Indonesia dan oleh orang diluar etnis Toraja. Sementara kata “Toraya” dipakai oleh orang Toraja sendiri dalam bahasa Toraja baik dalam percakapan sehari-hari maupun bahasa tinggi Toraja (sastra-sastra Toraja).

Related post :   Riwayat hidup Puang Tarongko

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!