Menu Tutup

Ancestor story : Puya, dunia arwah

Salah satu ciri khas kepercayaan tradisonal leluhur Toraja adalah animisme yang telah dianut selama berabad-abad sebelum kedatangan kolonial Belanda. Pada tahun 1913, kelompok penyiar agama Kristen atau disebut zending  telah ada di Toraja dan mulai menyebarkan agama kristen.

Dengan semakin berkembangnya ajaran kekristenan sejak masa itu, penganut animisme semakin berkurang. Meskipun demikian, sampai saat ini penganut animisme atau agama tradisonal Toraja atau lazim disebut dengan aluk todolo tidaklah sama sekali hilang.

Penganut aluk todolo dapat dengan mudah ditemui terutama di pedalaman-pedalaman Toraja.

Mengetahui atau memahami bagaimana kepercayaan leluhur ini apakah penting atau tidak bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan. Disatu sisi mayoritas etnis Toraja telah menganut kekristenan yang jelas menolak animisme.

Pada sisi yang lain, tak dapat dipungkiri bahwa aluk todolo memiliki andil besar pada dinamika kebudayaan Toraja dari mulanya sampai sekarang ini. Jadi, mengetahui bagaimana itu aluk todolo, dapat dikatakan, sama artinya dengan mengetahui kebudayaan Toraja secara utuh .

Puya, dunia arwah

Leluhur suku Toraja meyakini bahwa setelah manusia meninggal, ia akan berangkat ke dunia lain yang dinamakan puya. Penguasa di alam puya adalah Puang Lalondong. Konon, puya itu letaknya di arah selatan. Itulah sebabnya terdapat istilah “malemo sau’ “ artinya telah berangkat ke arah selatan. Sau’ dalam bahasa Toraja diungkapkan untuk menunjukkan arah selatan.

Hal ini jelas dalam syair badong ketika upacara penguburan :

tiromi tu tau tongan,
tu tonatampa deata 
malemo naturu’ gaun 
maempa-empa salebu’ 
sau’ rumembena langi’, 
sau’ ingko’na batara,….dst

Tradisi leluhur, kehidupan dalam puya itu sama dengan kehidupan manusia yang hidup di dunia ini. Mereka melakukan berbagai kegiatan seperti makan, minum, kawin dan meninggal seperti lazimnya saat ia masih hidup.

Kemakmuran di alam puya ditentukan oleh banyaknya hewan dan harta yang dikorbankan saat upacara penguburannya. Semua pengorban pada saat itu menjadi bekal bagi orang yang mati untuk berangkat ke puya. Orang yang tidak membawa-apa alias tidak mengurbankan apa-apa saat pemakamannya, arwahnya akan ditolak oleh Puang Lalondong melangkah ke dalam puya.

Related post :   Ancestor story : Konsep tentang Ilahi, Alam Semesta dan Manusia dalam Aluk Todolo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!